Iran Terancam Gugur dari Piala Dunia 2026 karena Konflik Perang dengan AS
Ketegangan geopolitik global bisa berdampak langsung pada dunia sepak bola. Timnas Iran dikabarkan terancam dicoret dari keikutsertaan di Piala Dunia 2026, menyusul meningkatnya konflik dengan salah satu tuan rumah turnamen, yaitu Amerika Serikat.
Iran menjadi satu dari enam negara pertama yang lolos ke Piala Dunia 2026. Namun, situasi politik dan militer yang memanas, terutama setelah serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran, memicu spekulasi bahwa Team Melli (julukan timnas Iran) bisa dibatalkan keikutsertaannya di turnamen akbar empat tahunan tersebut.
Ketegangan Global dan Ancaman FIFA
Laporan dari berbagai media internasional seperti New Straits Times dan News.com.au menyebutkan bahwa konflik Iran dengan AS dan Israel telah menjadi perhatian dunia. Serangan militer tersebut berpotensi membuat FIFA mengambil langkah tegas, mengingat badan sepak bola dunia itu punya rekam jejak mencoret negara dari kompetisi internasional karena konflik bersenjata.
-
Rusia dicoret dari agenda FIFA & UEFA sejak invasi ke Ukraina.
-
Yugoslavia pernah dilarang tampil pada 1990-an karena perang di Balkan.
Jika konflik Iran-AS terus memanas, bukan tidak mungkin Iran mengalami nasib serupa.
Larangan Masuk ke AS Bisa Jadi Kendala Tambahan
Masalah lainnya adalah larangan masuk ke Amerika Serikat bagi warga Iran dan sejumlah negara lainnya. Kebijakan Presiden Donald Trump yang diberlakukan kembali pada Maret lalu menutup akses masuk dari lebih 40 negara, termasuk Iran, Afghanistan, Libya, Sudan, dan Somalia.
Meskipun ada pengecualian untuk atlet Piala Dunia dan Olimpiade, dukungan suporter dari Iran kemungkinan besar akan absen di stadion karena larangan visa tersebut. Ini akan mengurangi atmosfer dan semangat yang biasanya dibawa oleh pendukung Iran saat tampil di panggung internasional.
Apa Langkah FIFA Selanjutnya?
FIFA sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi soal nasib Iran. Namun, banyak pihak memperkirakan bahwa federasi sepak bola dunia itu akan menghadapi dilema besar: antara menjaga prinsip inklusivitas dan netralitas olahraga, atau mengutamakan stabilitas dan keamanan turnamen yang berlangsung di Amerika Utara.